Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Internasional. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 April 2017

Seekor Ular Piton di Australia Kecanduan Sabu-sabu

Seekor Ular Piton di Australia Kecanduan Sabu-sabu


New South Wales -
Di Lembaga Pemasyarakatan (LP) John Morony Correctional Complex di New South Wales (NSW) Australia, terdapat pusat perawatan ratusan hewan liar. Salah satunya, adalah seekor ular piton yang ternyata mengalami kecanduan sabu-sabu.
Menurut petugas LP Ian Mithcell, ular hutan tersebut disita dalam penggerebekan polisi di sebuah pabrik sabu-sabu. Di tempat itu, kata Mitchell, ular ini telah menyerap narkoba melalui kulitnya.
Dia menjelaskan, kecanduan sabu-sabu membuat ini kebingungan, tidak menentu dan lebih agresif dari biasanya. Diperlukan waktu enam minggu untuk mendetoksifikasi ular ini di pusat perawatan satwa liar penjara tersebut.
"Butuh waktu untuk menghilangkan pengaruh obat pada ular tersebut. Dengan bantuan kami, kami berhasil menenangkannya setelah beberapa bulan dan mengembalikan rutinitas pola makannya," kata Mitchell.
Menurut Mitchell, hewan lain yang turut disita dalam penggerebekan polisi termasuk kadal berjenggot dan kadal lidah biru.
Pusat perawatan ini juga menerima sejumlah hewan yang terluka dari pihak terkait termasuk dari lembaga perlindungan satwa RSPCA.
"Selain reptil yang terkait dengan kasus pidana, kami juga merehabilitasi ular berbisa seperti ular cokelat dan perut merah yang mungkin ditemukan di halaman atau di pinggir jalan," kata Mitchell.
Seorang petugas LP John Morony Correctional Complex, Ian Mitchell, menunjukkan seekor ular yang berada di pusat perawatan hewan liar di penjara tersebut, 11 April 2017. (Foto: Kiriman/CSNSW)

Pusat perawatan satwa di penjara tersebut memiliki sekitar 250 ekor hewan termasuk kura-kura, walabi, 
posum,kookaburra,emu, kakatua danwombat.
Hewan-hewan yang terlibat dengan kasus pengadilan dimasukkan ke kotak begitu proses selesai dan menjalani rehabilitasi untuk ditampung di kelompok penyayang binatang atau pemilik yang memiliki izin.
Hewan lainnya diserahkan ke lembaga perlindungan hewan termasuk RSPCA serta Taman Nasional dan Margasatwa.
Membantu
Pusat perawatan satwa liar tersebut bukan hanya untuk merehabilitasi hewan.
Puluhan tahanan yang berisiko rendah turut berpartisipasi dalam program ini, melakukan perawatan hewan dan membuatkan tempat penampungan. Mereka bahkan berkesempatan menyelesaikan pendidikan sertifikasi perawatan hewan.
"Program ini menyediakan lingkungan menenangkan bagi mereka sehingga dapat membantu mereka mengurangi perbuatannya kembali," kata Kepala LP Ivan Calder.
"Hal ini juga memungkinkan pemasyaratakan kembali serta penguatan perawatan dan pertimbangan dari orang lain, bukan hanya diri sendiri," jelasnya.
"Terjadi perbaikan dalam interaksi kelompok dan motivasi karena program ini memberikan tujuan yang bisa diraih oleh peserta," katanya.
Seorang napi sedang menangani ular piton yang telah menjalani rehabilitasi, Selasa 11 April 2017. (Foto: Kiriman/CSNSW)
Para tahanan membersihkan dan memberi makan pada reptil yang tidak berbisa, sementara ular-ular berbisa hanya ditangani oleh staf terlatih.
Ular-ular di tempat itu makan tikus, sementara hewan lainnya memakan ulat dan jangkrik.
Diterbitkan Rabu 12 April 2017 Pukul 11:30 AEST oleh Farid M. Ibrahim dari artikel berbahasa Inggris.
sumber : detik.news
Read More

Jumat, 07 April 2017

Frustrasi Tak Beristri, Pria China 'Nikahi' Robot Ciptaannya

Beijing - Ada-ada saja! Seorang pria China telah "menikahi" sebuah robot setelah dirinya tak kunjung mendapatkan kekasih untuk dinikahi. Robot tersebut merupakan hasil ciptaannya sendiri. Media lokal, Qianjiang Evening News melaporkan, Zheng Jiajia membuat robot 'perempuan' pada akhir tahun 2016 lalu. Insinyur berumur 31 tahun itu merupakan pakar kecerdasan buatan yang merancang dan menciptakan robot-robot.  Robot yang diberi nama Yingying tersebut bisa mengidentifikasi karakter-karakter China dan gambar-gambar, bahkan bisa mengucapkan beberapa kata yang sederhana. Zheng yang tinggal di Hangzhou, provinsi Zhejiang tersebut "menikahi" robot ciptaannya itu dalam sebuah seremoni serderhana yang digelar pada Jumat (31/3) waktu setempat
Dilaporkan Qianjiang Evening News seperti dilansir South China Morning Post, Selasa (4/4/2017), robot Yingying mengenakan pakaian hitam di hari "pernikahan" tersebut dan kepalanya ditutupi dengan scarf merah selama seremoni, yang merupakan ritual pernikahan tradisional China. Mereka yang hadir dalam seremoni tersebut adalah ibu dan teman-teman Zheng. Salah seorang teman Zheng mengatakan, pria tersebut frustrasi karena tak kunjung mendapatkan kekasih, sehingga dirinya pun memutuskan untuk "menikahi" robot Yingying. Dilaporkan bahwa Zheng kini berniat memperbarui istri robotnya agar bisa berjalan dan bahkan membantu melakukan tugas-tugas rumah tangga. Zheng dulunya bekerja untuk perusahaan telekomunikasi multinasional China, Huawei. Namun dia keluar dari perusahaan itu pada tahun 2014 dan bergabung dengan Hangzhou's Dream Town, sebuah perusahaan Internet sejak tahun 2016 lalu. (ita/ita)
Sumber Berita https://news.detik.com/internasional
Read More